Sabtu, 16 Maret 2013

Korelasi Kompetensi Mengajar Terhadap Hasil Belajar Siswa BAB I


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan yang suci dan mempunyai potensi – potensi yang dapat berkembang sesuai dengan apa yang telah ia dapat dari pembelajaran, baik pembelajaran secara formal atau non formal. Dengan kata lain  perkembangan yang dialami oleh seorang manusia dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yang dimaksudkan adalah faktor jasmani, faktor psikologis, dan faktor kelelahan[1], sedangkan faktor ekstern yang dimaksudkan adalah faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.[2]
Adanya beberapa faktor yang telah diuaraikan di atas, maka dalam pembahasan ini akan dibicarakan tentang faktor ekstern yaitu faktor dari sekolah. Apabila berbicara tentang faktor sekolah maka tidak akan lepas dari adanya suatu proses dalam pendidikan atau pembelajaran. Sehingga dalam proses pendidikan  atau proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh peran serta pendidik dan anak didik (peserta didik) sebagai makhluk yang memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan serta apa yang akan ditingkatkan dalam kualitasnya.
“Interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar disatu pihak dengan warga belajar yang sedang melaksanakan kegiatan belajar”[3]. Dari interaksi belajar mengajar yang baik akan sangat mendukung terciptanya tujuan belajar. “Tujuan belajar adalah bukan sekedar mengahafal atau mengembangkan kemampuan intelektual, akan tetapi mengembangkan setiap aspek, baik kemampuan kognitif, sikap, emosi, kebiasaan, dan lain sebagainya.”[4].
Salah satu faktor pendidikan  untuk melakukan proses belajar mengajar adalah adanya pendidik ( guru ) dan adanya peserta didik. Untuk melakukan proses belajar mengajar guru harus  lebih  dahulu  mengetahui  tugas  dari  seorang  guru, yaitu :
1)     “Mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2)     Memberi fasilitas pencapian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai.
3)     Membantu perkembangan aspek – aspek pribadi seperti sikap, nilai – nilai, dan penyesuaian diri.”[5]
Sehingga dalam proses belajar mengajar seorang guru dapat semaksimal mungkin untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran kepada para peserta didik, dan juga guru dapat membentuk kompetensi serta membentuk pribadi peserta didik ke arah yang positif. Hal ini harus dapat dilakukan semaksimal mungkin oleh seorang guru karena sesuai dengan arti dari pada guru atau pendidik yaitu menurut “Undang – undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa guru adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong praja, widyaiswara, tutor, instruktur, serta berpartisipasi dalam menyelenggaraan pendidikan.”[6]
 Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.”[7] Sehingga untuk mengembangkan potensi atau  mewujudkan apa yang harus menjadi tujuan ataupun cita – cita dalam pendidikan, maka guru dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan sebagai seorang guru agar mampu melaksanakan tugas kependidikan dan keguruan secara lebih baik.
“Kompetensi guru dapat diamati dari beberapa macam petunjuk, antara lain : 1) Ditunjang latar belakang pengetahuan. 2) Adanya performance. 3) Kegiatan yang menggunakan prosedur dan teknik yang jelas. 4) Adanya hasil yang dicapai.”[8] “Secara umum kompetensi yang diperlukan oleh seorang guru terbagi menjadi empat faktor yaitu : Kompetensi pedagogik, pribadi, social, dan professional.”[9] Serta guru juga harus dapat memahami subjek didik (peserta didik). “Memahami subjek didik yang dimaksudkan adalah guru harus mengetahui dan mendalami berbagai karakteristik yang ada dalam diri subjek didiknya secara menyeluruh yang merupakan satu kesatuan.”[10]
Hal ini akan sangat membantu seorang pendidik dalam menyelenggarakan proses pembelajaran secara arif dan bijaksana. Sehingga dalam proses belajar mengajar dapat tercipta suasana yang kondusif dan akan lebih mudah dalam mencapai tujuan dari proses belajar mengajar tersebut.
Pengembangan Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam dapat dilakukan dengan cara pengembangan pengetahuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran. Jadi antara seorang guru dan siswa keduanya harus dalam kegiatan berinteraksi dengan posisi , tugas dan tanggung jawab masing – masing untuk mencapai suatu tujuan dari pembelajaran tersebut. Guru bertanggung jawab mengantarkan peserta didik ke arah pemahaman dan kedewasaan yang matang. Sedangkan peserta didik mampu menempatkan dirinya sebagai seseorang yang berusaha dalam mencapai tujuan dengan bantuan dan bimbingan dari pendidik.
Dalam kegiatan proses pembimbingan atau pembinaan yang dilakukan oleh seorang pendidik terhadap peserta didik terdapat adanya suatu faktor yang sangat mempengaruhi atau sangat mendukung dari hasil belajar yang akan dicapai yaitu kompetensi guru. Kompetensi guru yang dimaksudkan adalah suatu hal  kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan pemberian kemudahan bagi peserta didik untuk melakukan proses belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. “Tujuan pendidikan menengah (SMP/MTs atau SMA/MA) yaitu meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.”[11] Sehingga kompetensi yang dimiliki guru dapat digunakan dalam beberapa aspek yakni aspek kognitif, psikomotorik, dan aspek afektif.
“Madrasah Tsanawiah Darussalam Kepahiang, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang adalah merupakan suatu lembaga pendidikan yang menkolaborasikan antara pendidikan tentang ilmu – ilmu pengetahuan umum dari naungan Dinas Pendidikan Nasional dengan pendidikan tentang ilmu – ilmu keagaaman dari naungan Kementerian Agama serta ilmu keagamaan yang diterapkan oleh Pondok Pesantren. Untuk melaksanakan program pemerintah yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darussalam Pondok Pesantren Modern Darussalam Kepahiang, mata pelajaran dibagi menjadi dua kelompok:
a.            Kelompok mata pelajaran umum.
b.            Kelompok mata pelajaran agama dan pondok pesantren.
Kedua kelompok mata pelajaran tersebut di atas dipadukan secara utuh sehingga muatannya sama yaitu 50%, untuk mata pelajaran agama dan pondok pesantren, dan 50% pelajaran umum. Dari 2 kelompok mata pelajaran umum dan pondok pesantren tersebut di atas maka struktur kurikulum MTs Darussalam Pondok Pesantren Modern Darussalam Kepahiang berisikan kelompok mata pelajaran sebagai berikut :
a.       Kelompok mata pelajaran Pondok Pesantren dan Akhlakul Karimah.        
b.       Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.
c.       Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
d.       Kelompok mata pelajaran estetika.
e.       Kelompok mata pelajaran bahasa.
f.       Kelompok mata pelajaran olah raga jasmani dan kesehatan.”[12]

Apabila melihat dari uraian di atas tentang kurikulum yang dilaksanakan pada MTs Darussalam, maka beban yang diemban oleh seorang siswa atau santri begitu berat. Maka sangat diperlukannya kompetensi guru yang memadai untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Berdasarkan observasi penulis, latar belakang guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiah Darussalam Kepahiang, serta kegiatan dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan kurang maksimal, hal ini dikarenakan tugas yang diemban beliau yang begitu banyak, sehingga ada beberapa unsur – unsur dari kompetensi guru yang belum diterapkan  oleh guru tersebut.
Kompetensi guru yang dimaksudkan adalah kompetensi pedagogik, pribadi, sosial dan profesi. Sehingga hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik di Madrasah Tsanawiah Darussalam Kepahiang masih belum maksimal khususnya pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Untuk itu diperlukan adanya berbagai kemampuan dalam diri pendidik yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang dikenal dengan istilah Kompetensi Guru.
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang di atas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang korelasi kompetensi guru yang penulis tuangkan dalam sebuah penelitian yang berjudul: Korelasi Kompetensi Guru Dengan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  Semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang, Kecamatan Kepahiang. Kabupaten Kepahiang
B.      Batasan Masalah
Setelah diuraikannya latar belakang seperti di atas, agar tidak terjadi perluasan pembahasan dalam penelitian ini dengan mengingat adanya keterbatasan pada waktu, tenaga dan biaya, serta agar lebih terfokus dan lebih memudahkan dalam melakukan penelitian.
Dalam penelitian ini permasalahan terbatas pada kajian Korelasi Kompetensi Guru Dengan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  Semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang, Kecamatan Kepahiang. Kabupaten Kepahiang. Penelitian ini penulis batasi hanya dengan dua variabel saja, yaitu :
a.      Kompetensi guru Sejarah Kebudayaan Islam
b.     Hasil belajar siswa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam semester 2 Tahun Pelajaran 2011 - 2012.
C.       Rumusan Masalah
Berdasarkan kondisi tersebut di atas dan lebih mengarahkan permasalahan penelitian ini agar mempermudah dalam mendeteksi permasalahan dalam pembahasan maka, peneliti merumuskan permasalahan pokok penelitian yaitu : “Apakah terdapat korelasi kompetensi guru dengan hasil belajar siswa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang, Kecamatan Kepahiang. Kabupaten Kepahiang” Dalam pokok permasalahan ini selanjutnya akan dijabarkan dalam tiga sub masalah antara lain sebagai berikut :
1.      Seberapa besar skor kompetensi guru Sejarah Kebudayaan Islam semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang ?
2.      Seberapa besar skor hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam siswa semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang ?
3.      Seberapa besar skor korelasi antara kompetensi guru dengan hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam siswa semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang ?
D.      Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
c.      Ingin mengetahui seberapa besar skor kompetensi guru Sejarah Kebudayaan Islam semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang ?
d.     Ingin mengetahui seberapa besar skor hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam siswa semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang ?
e.      Ingin mengetahui seberapa besar skor korelasi antara kompetensi guru dengan hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam siswa semester 2 TP. 2011-2012 di MTs Darussalam Kepahiang ?
2.     Manfaat Penelitian
Adapun manfaat hasil dari penelitian ini adalah :
a.      Untuk melihat bagaimana korelasi kompetensi guru Sejarah Kebudayaan Islam dengan hasil belajar siswa.
b.     Untuk menyarankan kepada guru agar lebih memiliki kompetensi guru yang optimal dalam proses belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
c.      Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) dalam Pendidikan Agama Islam  di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Curup.
E.       Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah penyusunan maka penulis memformulasikan pembahasannya yaitu:
Bab I      : Pendahuluan, latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II    : Landasan Teori yang meliputi;  pengertian guru, pengertian kompetensi guru, peranan guru, pengertian belajar, pengertian hasil belajar, serta faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
Bab III   : Metodologi Penelitian yang meliputi; metode penelitian, jenis penelitian, populasi dan sampel, hipotesis penelitian, metode pengumpulan data, teknik analisis data.
Bab IV  :  Laporan Hasil Penelitian, yang berisikan tentang gambaran umum Madrasah, deskripsi data, analisis data dan pengujian hipotesis, dan diskusi dan interprestasi data.
Bab V   :  Penutup, memaparkan kesimpulan dari hasil penelitian dan memberikan saran-saran.




[1] Slameto. Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya.Jakarta. Rineka Cipta. 2010.hal. 54
[2] Ibid.hal.60.
[3] Sadirman.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta.Raja Grafindo Persada.2011.hal.2
[4] Wina Sanjaya.Pembelajaran dalam Implementasi KBK.Bandung.Kencana.2005.hal.89
[5] Slameto.Op.Cit. 2010.hal. 97
[6] Lukmanul Hakiim.Perencanaan Pembelajaran.Bandung. CV Wacana Prima.2008.hal.243
[7] Depag RI. Standar Nasional Pendidikan.Jakarta. 2005.hal.3
[8] Sumiati dan Asra.Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima, 2008. Hal 242
[9] Lukmanul Hakiim.Op Cit.hal.243
[10] Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima, 2008. Hal 33
[11] Lukmanul Hakiim.Op Cit.hal.21
[12] Profil MTs Darussalam Kepahiang.TP. 2011 – 2012.hal.2









BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Definisi operasional dan lingkup pembahasan merupakan suatu langkah untuk memberikan arahan yang jelas agar tidak terjadi kesalah pahaman menginterprestasikan maksud dari penelitian nanti. Di samping itu juga dapat mengarahkan jalannya penelitian serta dapat memberikan gambaran yang nyata dan  dapat dipahami melalui definisi operasional ini dalam memahami skripsi ini. Adapun yang perlu ditegaskan disini yang berkaitan dengan variabel dalam penelitian, yakni kompetensi guru dan hasil belajar.
A.      Kompetensi Guru
1.     Pengertian Guru
Suatu kegiatan belajar mengajar yang dilakukan adalah dalam proses penyampaian materi pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru kepada para peserta didik.  Hal ini sesuai dengan pengertian guru yang disebutkan dalam Undang – undang Sistem Pendidikan Nasional yaitu “guru adalah tenaga kependidikn yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong praja, widyaswara, tutor, instruktur, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.”[1]
11
Guru merupakan faktor pendidik yang amat penting sebab ditangan guru metode, kurikulum, alat pembelajaran lainya akan hidup dan berperan atas asumsi sedemikian rupa bahwa alat pendidikan yang terpenting adalah guru karena yang dapat membenahi dunia pendidikan adalah guru.
Sehubungan dengan guru yang berfungsi sebagai  “pengajar, pendidik, dan pembimbing”[2], maka diperlukan beberapa peranan  pada diri guru. Peranan guru ini akan senangtiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru, maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai intraksi belajar-mengajar, guru dipandang sebagai sentral pendidikan. Baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar-mengajar dan berintraksi dengan siswanya
2.     Pengertian Kompetensi Guru
Dengan mengetahui uraian tentang pengertian guru dengan peranannya yang begitu penting terhadap dunia pendidikan, maka seorang guru sesuai dengan profesi dituntut untuk mempunyai kompetensi.
“Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan nilai – nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang dilakukan secara konsisten dan terus menerus dapat mmungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten dalam bidang tertentu. Kompeten mempunyai arti memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu”[3]

“Menurut Muhibbin Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi guru juga dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. Sedangkan menurut Mulyasa kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, sosial, spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.[4]

“Menurut Mc. Ashan, kompetensi adalah suatu pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga mewarnai perilaku kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Dengan penjelasan tersebut Gordon menjelaskan beberapa aspek yang harus terkandung di dalam kompetensi :
1)      Pengetahuan ( knowledge) yaitu pengetahuan seseorang untuk melakukan sesuatu.
2)      Pemahaman ( understanding ) yaitu kedalaman kognitif  dan afektif yang dimiliki oleh individu.
3)      Keterampilan ( skill ) yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas yang dibebankan.
4)      Nilai (value) yaitu suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menjadi bagian dari dirinya.
5)      Sikap (attitude) yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.
6)      Minat (interest) yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan.”[5]

Memandang pendapat yang dikemukakan di atas, bahwa manusia mempunyai potensi – potensi yang ada dalam dirinya, tetapi ada beberapa potensi – potensi yang harus dimiliki manusia untuk menjadi suatu komptensi yang sangat diperlukan dalam kehidupan pendidikan khususnya sebagai seorang pendidik atau guru, “Kompetensi yang harus dimiliki guru dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a.       Kompetensi bidang kognitif, artinya : kemampuan intelektual, penguasaan mata pelajaran.
b.       Kompetensi bidang sikap, artinya : kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya.
c.       Kompetensi bidang perilaku, artinya : kemampuan guru dalam berbagai keterampilan.”[6]

Menurut Undang – undang no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada Bab IV pasal 10 ayat 91 menyatakan kompetensi yang harus dimiliki guru disebutkan dengan kata atau kalimat lain. Bahwa “Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.”[7] Untuk lebih jelas kembali tentang kompetensi tersebut, maka penulis mengutip dari berbagai sumber diantaranya yaitu:
 “Kompetensi guru adalah gambaran tentang kemampuan yang dituntutkan kepada seseorang yang memangku jabatan sebagai guru. Guru adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong praja, widyaiswara, tutor, instruktur, serta berpartisipasi dalam menyelenggaraan pendidikan. Serta dalam Peraturan pemerintah no. 16/2007 tentang standar kompetensi guru dibagi menjadi 4 kompetensi yaitu :
1)  Kompetensi pedagogi terdiri dari 10 kompetensi.
a)   Menguasai karakteristik siswa.
b)   Menguasai teori belajar dan prinsip – prinsip pembelajaran yang mendidik.
c)   Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
d)   Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang mendidik.
e)   Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
f)    Memfasilitasi pengembangan potensi siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
g)   Mengelola interaksi belajar mengajar
h)   Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
i)    Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
j)    Melakukan tindakan yang reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
2)  Kompetensi kepribadian terdiri dari 5 kompetensi.
a)   Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, social, dan kebudayaan nasional Indonesia.
b)   Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi siswa dan masyarakat.
c)   Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan beribawa.
d)   Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru dan rasa percaya diri.
e)   Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
3)  Kompetensi sosial terdiri dari 4 kompetensi.
a)   Bersikap insklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif.
b)   Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun kepada sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
c)   Beradaptasi di tempat tugas di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki keragaman sosal budaya.
d)   Berkomunikasi dengan komunitas profesi dan profesi lain.
4)  Kompetensi profesional terdiri dari 5 kompetensi yaitu :
a)   Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
b)   Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.
c)   Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
d)   Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
e)   Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.”[8]

Dari pendapat yang telah disebutkan di atas tentang standar kompetensi guru, maka penulis membuat sebuah analisis bahwa sebuah kesuksesan guru pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pendidikan harus didukung dengan kompetensi yang telah disebutkan di atas. Apabila setiap guru telah memiliki dari ke empat komptetensi tersebut, maka tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan maksimal sesuai dengan yang telah diharapkan dalam tujuan pendidikan.
Telah dinyatakan bahwa begitu banyak sub kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai syarat menjadi seorang pendidik. Sehingga untuk lebih simple, perlu meninjau kembali standart kompetensi yang harus dimiliki guru. Standar Kompetensi Guru tersebut harus meliputi komponen - komponen kompetensi dan masing-masing komponen kompetensi terdiri atas beberapa unit kompetensi. Secara keseluruhan Standar Kompetensi Guru adalah sebagai berikut :
1.   Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan, yang terdiri atas
a.    Sub Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran :
1)       Menyusun rencana pembelajaran
2)       Melaksanakan pembelajaran
3)       Menilai prestasi belajar peserta didik
4)       Melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik.
b.   Sub Komponen Kompetensi Wawasan Kependidikan :
1)     Memahami landasan kependidikan
2)     Memahami kebijakan pendidikan
3)     Memahami tingkat perkembangan siswa
4)     Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya
5)     Menerapkan kerja sama dalam pekerjaan
6)     Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan
2.   Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional, yang terdiri atas :
a.    Menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran
b.    Komponen Kompetensi Pengembangan Profesi terdiri atas :
1)     Mengembangkan profesi.
2)     Indikator Kompetensi.”[9]

Seperti pendapat Sadirman, A.M menyebutkan bahwa guru adalah sebagai tenaga pendidik yang profesional, maka guru dalam melakukan pendidikan terlebih dahulu harus mempunyai sepuluh kompetensi guru, yaitu :
1.     Menguasai bahan
a.    Menguasai bahan bidang study dalam kurikulum sekolah
b.   Menguasai bahan pengayaan / penunjang  idang studi.
2.     Mengelola program belajar mengajar
a.    Merumuskan tujuan instruksional / pembelajaran.
b.   Mengenal dan dapat menggunakan proses instruksional yang tepat.
c.    Melaksanakan program belajar mengajar.
1)   Menyampaikan materi pembelajaran dengan tepat.
2)   Pertanyaan yang dilontarkan cukup merangsang untuk berpikir, mendidik, dan mengenai sarsaran.
3)   Memberi kesempatanatau menciptakan kondisi yang dapat memunculkan pertanyaan dari siswa.
4)   Terlihat adanya variasi dalam pemberian materi dan kegiatan.
5)   Selalu memperhatikan reaksi / tanggapan yang berkembang dari siswa.
6)   Memberikan penghargaan bagi jawaban yang tepat dan memberikan arahan bagi jawaban yang salah.
d.   Mengenal kemampuan anak didik.
e.    Merencanakan dan melaksanakan program remedial.
3.       Mengelola kelas
4.       Mengguanakan media pembelajaran.
5.       Menguasai landasan – landasan pendidikan.
6.       Mengelola interaksi belajar – mengajar.
7.       Menilai prestasi siswa untu kepentingan pengajaran.
8.       Mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
9.       Mengenal dan meyelenggarakan administrasi sekolah.
10.    Memahami prinsip - prinsip dan menafsirkan hasilpenelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.[10]

Berdasarkan dari berbagai  pendapat yang diungkapkan di atas dapat diambil garis besarnya bahwa Kompetensi Guru adalah merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dalam bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam penyampaian serta penanaman pengetahuan dan keterampilan demi mencapai tujuan yang diharapkan pada proses pembelajaran.
3.     Peranan Guru
Dalam proses kegiatan belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, serta memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan belajar mereka. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Dengan tanggung jawab yang begitu besar sehingga guru juga mempunyai peranan yang sangat penting. Mengenai peranan – peranan guru dalam pembelajaran terdapat beberapa pendapat yang dijelaskan sebagai berikut:
1.     “Prey Katz menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasehat – nasehat, motivator sebagi pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai – nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan.
2.     Havighurst menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagai pegawaidalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungan teman sejawat, sebagai mediator dalam hubungan dengan anaak didik, sebagai pengatur disiplin, evaluator dan pengganti orang tua.
3.     James W. Brown, mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru guru anatara lain : menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari –hari, mengontrol dan mengevaluasikegiatan siswa.
4.     Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia, mengungkapkan bahwa peranan guru di sekolah, tidak hanya sebagai transmiterdari ide tetapi juga berperan sebagai transfomer dan katalisator dari nilai dan sikap.”[11]

Dari beberapa pendapat di atas, yang menyebutkan begitu banyak peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar, secara singkat dapat diklasifikasikan menjadi beberapa peranan seperti yang diungkapkan oleh Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag sebagai berikut :
1.       “Korektor
2.       Inspirator
3.       Informator
4.       Organisator
5.       Motivator
6.       Inisiator
7.       Fasilisator
8.       Pembimbing
9.       Demonstrator
10.    Pengelola kelas
11.    Mediator
12.    Supervisor
13.    Evaluator”[12]

Oleh karena peran guru yang begitu penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar demi mewujudkan tujuan dari pada pendidikan, maka seorang guru atau pendidik harus mempunyai kompetensi dalam mendidik. Kompetensi guru yang penulis maksudkan adalah kompetensi pedagogi, sosial, pribadi, dan profesional yang dimiliki oleh seorang guru Sejarah Kebudayaan Islam semester II di MTs Darussalam Kepahiang yang dapat dijadikan sumber dalam penelitian ini.
Untuk mendapatkan penilaian besarnya nilai kompetensi yang dimiliki oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Darussalam Kepahiang, maka penulis menetapkan kisi – kisi untuk mengukur tingkat kompetensi yang dimiliki oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam, sebagaimana diungkapkan pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.
Kisi – kisi instrumen variable Kompetensi Guru.
DIMENSI
INDIKATOR
BUTIR – BUTIR ITEM
JUMLAH
Bidang Pengetahuan
Ø Penguasaan materi
Ø Penggunaan metode
Ø Penggunaan media
1,2
3,4
5,6
2
2
2
Bidang Sikap
Ø Cara penilaian
Ø Kesiapan mengajar
Ø Sikap adil
7,8
9,10
11,12
2
2
2
Bidang Perilaku
Ø Membuka pembelajaran
Ø Menjelaskan pembelajaran
Ø Mengelola kelas
Ø Membimbing diskusi
Ø Keterampilan bertanya
Ø Memberi penguatan
Ø Mengadakan variasi
Ø Mengajar perseorangan
Ø Menutup pembelajaran
13,14
15,16
17,18
18,20
21,22
23,24
25,26
27,28
29,30
2
2
2
2
2
2
2
2
2

Dari tabel kisi – kisi  kompetensi guru sebagai variabel X di atas yang nantinya akan digunakan untuk menilai korelasinya dengan hasil belajar siswa, maka setelah mengetahui kisi – kisi tersebut di atas akan muncul teoriutis untuk menentukan ukuran seberapa besar nilai – nilai dari item – item jawaban sebagaimana seperti tabel di bawah ini :
Tabel 2
Pengukuran Secara Deskriptif
Pengukuran Item
Jumlah
Item
Nilai
Pengukuran Secara Deskriptif
Pertanyaan Positif
Pertanyaan Negatif
5
30
150
Sangat setuju
Sangat tidak setuju
4
30
120
Setuju
Kurang setuju
3
30
90
Netral
Netral
2
30
60
Kurang setuju
Setuju
1
30
30
Sangat tidak setuju
Sangat setuju

Jumlah total jawaban angket adalah :
1. 30 x 5 = 150 ( skor maksimal)
2. 30 x 1 = 30 (skor minimal )

B.      Hasil Belajar
1.       Pengertian Belajar
Sebelum membahas tentang hasil belajar, terlebih dahulu kita mengetahui pengertian belajar. Pada diri manusia terdapat kemampuan dasar bagi jasmani maupun rohani kemampuan yang ada harus dikembangkan melalui belajar. Menurut Ratna Wilis dahar dalam buku Ngalim Purwanto Menyatakan: “Belajar adalah suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman”.[13]
Sedangakan menurut Morgan dalam buku Ngalim Purwanto mengatakan: ”belajar adalah setiap perubahan yang relatif  menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”[14] Belajar merupakan suatu tingkah laku di mana perubahan itu bisa mengarah kepada tingkah laku yang baik atau baru. Belajar juga merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
Sedangkan menurut Suryabrata ada tiga hal pokok yang penting dalam belajar, yaitu:
a.   Belajar itu membawa perubahan
b.   Belajar itu pada pokoknya adalah mendapat kecakapan baru
c.   Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja.[15]
Dengan demikian belajar adalah suatu usaha kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan baik fisik maupun psikis didalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan dengan sadar serta perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan bersifat menetap.

2.       Pengertian Hasil Belajar
Konsep kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan pada suatu lembaga sekolah formal maupun non formal tidak lepas dengan adanya suatu penilaian pada akhir pembelajaran. Penilaian yang dilakukan tidak lain bertujuan untuk dapat mengetahui keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut. Dalam penilaiam ini beracuan pada hasil belajar siswa. “Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar.”[16]
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan baik pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan sehingga siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pendapat ini didukung oleh Sudjana dengan pernyataan bahwa “ hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, psikomotorik yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.”[17]
 “Hasil belajar merupakan refleksi keluasan, kedalaman, dan kerumitan secara bertingkat yang digambarkan secara jelas dan dapat diukur dengan teknik – teknik penilaian tertentu.”[18]
Dari beberapa pendapat di atas bahwa hasil belajar adalah merupakan suatu hasil atau tujuan dari berbagai proses pendidikan atau pembelajaran yang diberikan oleh guru dan diterima oleh terdidik, yang sering disebut dengan kata prestasi belajar. Prestasi belajar sebagai suatu hasil belajar akan menjangkau tiga ranah, yaitu seperti yang diungkapkan oleh teori Taksonomi Bloom yaitu
Hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Dengan terperinci sebagai berikut:
1.     Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
2.     Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
3.     Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati).” [19]

Agar lebih mudah untuk dipahami tentang tiga ranah yang harus dicapai dalam tujuan pendidikan, maka dalam pendapat yang lain menjelaskan lebih terperinci seperti yang dikemukakan oleh Bloom dalam Dimyati, yaitu ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik dimana ranah tersebut dipenuhi menjadi beberapa jangkauan kemampuan.
1.       Jangkauan kemampuan ranah kognitif tersebut adalah meliputi
a.    Pengetahuan dan ingatan (knowledge)
b.   Pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh (coprehention)
c.    Penerapan (application)
d.   Menguraikan, menentukan hubungan (analysis)
e.    Mengorganisasikan, merencanakan membentuk bangunan baru (syntesis)
f.    Menilai evaluation
2.       Jangkauan kemampuan ranah afektif (affective) adalah
a.    Sikap menerima (receiving)
b.   Partisipasi (participation)
c.    Menentukan penilaian (valuing)
d.   Mengorganisasi (organization)
e.    Pembentukan pola hidup (characterization).
3.       Sedangkan ranah psikomotor meliputi:
a.    Persepsi
b.   Kesiapan
c.    Gerakan terbimbing
d.   Gerakan yang terbiasa
e.    Gerakan kompleks
f.    Pentesuaian pola gerakan
g.   Kreativitas.”[20]

Melihat dari berbagai pendapat di atas bahwa dalam pendidikan mempunyai tujuan pendidikan kepada tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Maka seorang guru harus dapat melakukan evaluasi yang berupa penilaian terhadap apa yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran apakah sudah sejalan dengan tujuan pendidikan yang mengarah kepada tiga ranah. Dengan mengetahui hasil belajar yang telah diperoleh, maka seorang guru akan menyusun strategi atau langkah-langkah apa yang harus ditempuh mendapatkan hasil yang lebih baik. Nilai dari suatu proses pembelajaran atau pendidikan yang berupa hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukan hasil yang berciri sebagai berikut:
1.     Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi pada diri siswa
2.     Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya.
3.     Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya seperti akan tahan lama diingatannya, membentuk prilakunya, bemanfat untuk mempelajarai aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang lainya.
4.     Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengerndalikan dirinya terutaman adalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya”.[21]

Dari berbagai pengertian di atas dapat diambil pengertian bahwa hasil belajar adalam kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Individu yang belajar akan memperoleh hasil dari apa yang telah dipelajari selama proses belajar itu. Hasil belajar yaitu suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan hanya perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan, kebiasaan, pengertian, penguasaan, dan penghargaan dalam diri seseorang yang belajar.
Maka dengan ini penulis kemukakan lima kategori hasil belajar yang diambil dari pendapat “ Gegne, Robert, M. Brings, sebagai berikut:
1.   Informasi Varbal
Yang dimaksud informasi varbel adalah pengetahun yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan, dan tulisan.Pengetahuan ini diproleh dari sumber yang menggunakan bahasa, lisan, dan tulisan.
Informasi varbal meliputi :
-          Cap varbal yaitu kata yang dimiliki seseorang untuk menunjukan ada objek-objek yang dihadapi, misalnya kata “papan tulis” untuk benda tertentu.
-          Data atau fakta yaitu kenyataan yang diketahui, misalnya “negara” indonesia dilalui garis khalutistiwa.

2.   Kemahiran intlektual
Ada kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan diri sendiri dalam bentuk suatu refsentasi, khususnya konsep dan berbagai lambang atau simbol (huruf, kata, gambar).

3.       Pengetahuan Kegiatan Kognitif
Adalah suatu kegiatan yang berbeda sifat dengan kemahiran-kemahiran intlektual yang dibahas sebelumnya.Ruang gerak kemahiran intelektual adalah resentatif dalam kesadaran terhadap lingkungan hidup dan diri sendiri, pengetahuan kegiatan kognitif mencakup penggunaan konsep dalam kaidah yang dimiliki, terutama bila sedang menghadapi suatu problem.

4.       Keterampilan Motorik
Yaitu keterampilan yang dapat dilakukan suatu rangkaian gerak gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Ciri khas keterampilan motorik adalah otomatis yaitu rangkaian gerak - gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan simpel tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan.
5.       Sikap belajar di bidang dinamik efektif.
Sikap merupakan sikap interen yang berpengaruh sekali dalam mengambil tindakah lebih-lebih terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak. Orang yang memiliki sifat jelas, maupun untuk memilih secara jelas diantara beberapa kemungkinan misalnya siswa yang harus memilih antara belajar untuk mempersiapkan ujian atau pergi kepasar bersama teman-teman pada waktu yang bersamaan Yang mana harus dipilih, tergantung dari sikapnya terhadap kelulusan dalam ujian itu dan kepuasan dalam jalan-jalan, mana pada saat itu dianggap sangat penting. Siswa yang tidak mempunyai sifat jelas akan merasa ragu-ragu dan bingung mana yang harus diprioritaskan pada saat itu.”[22]

Dari lima katagori hasil belajar di atas dapat diambil garis besarnya bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita.”[23]

Sehingga  penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah suatu perubahan kemampuan ada ranah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat diukur dengan cara penilaian tertentu setelah mengalami proses belajar. Umumnya hasil belajar atau perestasi ini dituangkan dalam laporan pendidikan yang dikenal dengan Laporan Hasil Belajar (LHS).

3.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Slameto, yaitu faktor intern dan ekstern “faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.”[24]
Faktor-faktor di atas banyak hal yang sering dan saling mempengaruhi satu sama yang lain untuk lebih jelasnya penulis uraikan satu persatu faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain :

1.       Faktor Intern (faktor dari dalam diri siswa)
Faktor internal ini meliputi “faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan.
a.       Faktor jasmaniah
5)     Kesehatan
Dalam kegiatan proses belajar yang dilaksanakan oleh seorang siswa akan terganggu apabila kondisi tubuh siswa tidak dalam keadaan sehat. Karena dengan tida sehat, maka siswa tersebut akan mudah lelah, kepala pusing, ngantuk, ataupun kelainan –kelainan yang dialami oleh panca indera seta tubuhnya.
6)     Cacat tubuh
Cacat tubuh yang dimaksudkan adalah kebutaan atau rabun, tuli atau setengah tuli, patah kaki atau tangan, lumpuh, atau cacat tubuh lainnya.Apabila dalam diri siswa terdapat hal seperti tersebut di atas, maka semangat belajar dalam diri siswaakan mulai terganggu atau berkurang.

Dengan demikian seorang siswa harus lebih mengerti akan apa yang harus dilakukan agar semangat belajar dalam dirinya tidak mengalami kemerosotan.
b.       Faktor Psikologis
Ada tujuh faktor yang tergolong dengan factor psikologis yaitu :
1)     Intelegensi adalah kecerdasan kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadiri dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/ menggunakan konsep - konsep yang abstrak secaa efektif, mengetahui relasi dan mempelajari dengan cepat.
2)     Perhatian adalah keaktifan jiwa yang tertinggi, jika itupun semata – mata tertuju pada obyek) atau sekumpulan obyek.
3)     Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapakegiatan.
4)     Bakat adalah kemampuan untuk belajar yang akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata setelah belajar atau beralatih.
5)     Motif adalah suatu daya penggerak atau pendobrak untuk melakukan perbuatan.
6)     Kematangan adalah suatu tingkatan dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat tubuhnya sudah mulai siapuntuk melaksanakan kecakapan baru.
7)     Kesiapan kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi.

c.       Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni kelelahan jasmani dan kelelahan rohani, ini semua dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu menjadi hilang, maka sebab itulah kelelahan ini sangat mempengaruhi hasil belajar.
Untuk dapat menghilangkan kelelahan ini (baik jasmani dan rohani) dapat ditempun dengan cara-cara sebagai berikut :
1.       Tidur
2.       Istirahat
3.       Mengusahakan variasi dalam belajar
4.       Rekreasi yang teratur
5.       Olah raga secara teratur
6.       Mengimbangi makanan dan minuman yang memenuhi sarat dalam kesehatan
7.       Cepat menghubungi dokter, bila kelelahan sangat serius.”[25]

Dengan melihat cara-cara menghilangkan faktor kelelahan dalam belajar, faktor ini juga mempunyai pengaruh terhadap semangat belajar siswa, baik yang belajar pagi hari maupun belajar di siang hari.
2.       Faktor-Faktor Ekstern
Faktor ekstern ini meliputi faktor keluarga dan faktor sekolah yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a.       Faktor Keluarga
1)     Cara orang tua mendidik
Kita ketahui keluarga merupakan lembah pendidikan yang pertama dan utama. Ini berarti cara orang tua mendidik anaknya sampai besar artinya di sini mendidik anak tidak dengan cara mamanjakan atau membiarkan saja kalau anaknya tidak belajar dengan berbagai alasan, atau jika acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anak dalam belajar dan sebagainya. Sebab hal-hal tersebut dapat mengakibatkan anak menjadi nakal, berbuat seenaknya dan belajar menjadi kacau juga menyebabkan kurang berhasil dalam belajar dan ketinggalan dalam belajar dan akhirnya anak malas dalam belajar.Disinilah diperluka adanya bimbingan dan penyuluhan dari orang tau dalam membatu kesuksedan anaknya dalam belajar yang tentu saja keterlibatan orang tua sangat mempengaruhi keberhasilan seorang anak.
2)     Relasi antara anggota keluarga
Relasi antara anggota keluarga disini adalah relasi orang tua dengan anaknya.Selain itu relasi dengan saudara-saudaranya atau dengan anggota keluarganya yang lainnya, ikut mempegaruhi belajar anak, wujud relasi ini misalnya, apakah hubungan ini meliputi kasih sayang, penuh perhatian atau diliputi kebencian, sikap yang terlalu keras dan sebagainya.
3)     Suasana Rumah
Suasana rumah yang dimaksud disini adalah keadaan-keadaan yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak berada pada masa belajar.
4)     Keadaan ekonomi
Hal ini sangat erat kaitanya dengan belajar anak, anak yang sedang belajar harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya; makan, pakaian, fasilitas belajar (ruang belajar, meja, kursi, penerangan, buku dan sebagainya).
5)     Perhatian orang tua
Maksudnya orang tua sesema mungkin memberikan perhatian dan dorongan pada anak dalam masalah belajar, apabila anak mengalami lemah semangat dalam belajar maka di sini orang tua wajib memberikan perhatian dan sedapat mungkin membantu kesulitan yang dialami anak.Sehngga anak menemukan semangat kembali dalam belajar.
6)     Latar belakang budaya
Faktor ini adalah tingkat atau kebiasaan dalam keluarga yang mempengaruhi sikap anak dalam belajar, maka disini perlu ditanamkan kebiasaan - kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar.

b.       Faktor Sekolah
Faktor ini mencakup “metode mengajar,  kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode mengajar dan tugas rumah.
Pembahasan faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1)       Metode mengajar, merupakan suatu cara / jalan yang haus dilalui dalam belajar
2)       Kurikulum, diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa dalam proses belajar mengajar.
3)       Relasi guru dengan siswa, relasi ini terjadi akibat adanya proses belajar mengajar antara guru dengan siswa dipengauhi oleh realisasi dengan gurunya.
4)       Realisasi siswa dengan siswa, apakah hubungan dalam pergaulan itu positif atau tidak, maka ini turut mempengaruhi semangat belajar siswa.
5)       Disiplin siswadalam belajar di sekolah, di rumah dan di perpustakaan. Untuk mewujudkann ini maka guru beserta stafnya juga harus disiplin.
6)       Alat pelajaran, segaimana mestinya seorang murid pasti akan menirukan dari apa yang telah diajarkan oleh seorang guru, baik yang berupa alat sebagai media belajar.
7)       Waktu sekolahdisini adalah terjadiya peroses belajar di sekolah, waktu pagi, siang, dan sore hari.
8)       Standar pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa materinya harus sesuai dengan kemampuan masing-masingsiswa. 
9)       Keadaan gedung yang memadai dengan kondisi dari siswa maka akan menunjang untuk hasilbelajar siswa.
10)   Metode belajaryang baik dan tepat akan mendapatkan hasil belajar yang efektif, selain itu siswa juga harus belajar teratur setiap hari, mempunyai waktu yang baik, memilih belajar yang tepat, cukup istirahat, dengan demikian akan menghsilkan hasil belajar yang maksimal.
11)   Tugas rumah merupakan tugas yang harus dikerjakan siswa dirumah agar anak mempunyai waktu untuk mengulangi pelajaran yang telah di dapat di dalam kelas, dan mempunyai waktu untuk bermain.”[26]

Dengan adanya beberapa faktor yang terdapat di dalam faktor sekolah, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru untuk meningkatkan perkembangan kognitif siswa antara lain :
“    1.  Menciptakan relasi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik.
2.     Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdialog dengan orang yang ahli atau orang yang telah berpengalaman.
3.     Membawa peserta didik ke tempat obje wisata tertentu.
4.     Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak baik melalui kegiatan olah raga maupun penyediaan gizi yang cukup.
5.     Meningkatkan kemampuan berbasaha  peserta didik.”[27]

C.    Korelasi Kompetensi Guru Dengan Hasil Belajar
Dalam pengertian yang sederhana guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.[28] Sehingga guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan atau pembelajaran di tempat – tempat tertentu baik dalam lembaga formal maupun non formal.
Dengan pandangan masyarakat seperti demikian serta dalam undang – undang ataupun dalam peraturan – peraturan, guru mempunyai peranan atau tugas yang sangat dominan dalam mewujudkan perubahan pada diri anak didik ke arah yang lebih baik setelah melakukan kegiatan pembelajaran yang disebut dengan hasil belajar.
Untuk mendapatkan hasil belajaryang optimal, banyak dipengaruhi oleh beberapa komponen – komponen belajar mengajar. Sebagai contoh adalah bagaimana cara mengkoordinasikan materi, metode yang diterapkan, media yang digunakan, serta persiapan pembelajaran yang dimiliki oleh guru, yang lebih dikenal dengan kompetensi guru.
Sehingga untuk dapat memenuhi tugas dan fungsi guru sebagai seorang pendidik, pengajar, pembimbing, maka terdapat beberapa aspek utama yang merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu diantaranhya sebagai berikut :
1.           “Guru harus dapat memahami dan menempatkan kedewasaannya sebagai pendidik yang mampu menjadikan dirinya sebagai tauladan.
2.           Guru harus mampu mengenal diri siswanya secara utuh.
3.           Guru harus memiliki kecakapandalam memberikan bimbingan.
4.           Guru harus memiliki dasar pengetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan di Indonesia pada umumnya sesuai dengan tahap – tahap pembangunan.
5.           Guru harus memiliki pengetahuan yang lengkap dan baru mengenai ilmu yang diajarkan”[29]

Apabila dalam diri seorang guru terdapat beberapa aspek kompetensi seperti di atas, maka akan lebih cermat dan tepat dalam melakukan proses kegiatan pendidikan, pengajaran, serta bimbingan terhadap anak didik. Sehingga anak didik dalam menerima pendidikan, pengajaran, serta bimbingan yang diberikan oleh guru akan lebih semangat dan termotivasi untuk menjalin interaksi edukatif yang lebih kondusif. Sehingga dengan terjalinnya interaksi edukatif yang kondusif, maka untuk mewujudkan dari tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia yang utuh dengan perubahan yang positif akan semakin tercapai. Suatu ketercapaian tujuan yang diperoleh setelah melakukan proses pembelajaran dinamakan hasil belajar.


[1] Lukmanul Hakiim.Perencanaan Pembelajaran.Bandung. CV Wacana Prima.2008.hal.243
[2] Sardiman, Intraksi dan Motifasi Belajar Mengajar, Jakarta; PT. Raja Grafindo, 2011, hal. 143
[3] Departemen Agama.Standar Nasional Kurikulum Pendidikan Keagamaan.2002.hal.8
[4] http://www.asrori.com/2011/04/pengertian-kompetensi-guru.html
[5] Wina Sanjaya.Pembelajaran dalam Implementasi KBK.Bandung.Kencana.2005.hal. 6-7
[6] Nana Sudjana. Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung.1987.hal.18
[7] Udin Syaefudin Saud. Pengembangan Profesi Guru.Bandung.Alfabeta. 2008.hal. 49
[8] Lukmanul Hakiim.Op.Cit.hal.243-248
[9] http://vhariss.wordpress.com/2011/11/07/kompetensi-guru
[10] Sadirman..Op.Cit.hal.163-179
[11] Ibid. hal. 143-144
[12]   Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Banjarmasin, Rineka Cipta. 2010. Hal. 43-48
[13] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Rosda Karya Bandung, 1990, hal. 84
[14] Ibid. hal. 84
[15] Suryabrata dan Sumadi, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta; Rajawali Press, 1999. hal. 249
[16] Kunandar, Guru Profesional, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007. Hal. 229
[17] s_e0751_0607374_chapter2.Universitas Pendidikan Indonesia.hal. 11
[18] Departemen Agama.Kurikulum Berbasis Kompetensi Penilaian Berbasis Kelas.Jakarta.hal.32
[19] http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html
[20] http://www.sekolahdasar.net/2011/06/pengertian-hasil-belajar.html
[21]   http://dunia baca.com/pengertian-belajar-dan-hasil-belajar.html
[22] WS.Winkel.Psikologi Pendidikan, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000, hal. 98
[24] Slameto,Op Cit.hal. 54
[25] Ibid.hal.55-60
[26] Ibid.hal. 66-67
[27] Mohammad Ansori.Op.Cit.hal. 55-56
[28] Syaiful Bahri Djamarah. Op.Cit. Hal. 31
[29] Sadirman. Op Cit.hal.141-143

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar